Minggu, 23 Oktober 2011

Metode Simulasi, unit teaching n micro teaching


1. Metode simulasi
1)        Pengertian
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau ber­buat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk me­mahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya.
Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran, siswa akan dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Disamping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Jadi Metode simulasi adalah cara yang dilakukan oleh seorang guru atau instruktur dalam menyampaikan materi dengan cara menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

2)        Langkah-langkah Simulasi
Dalam pelaksanaan simulasi, harus terjadi proses kegiatan yang menimbulkan domein afektif, (misalnya menyenangkan, suka, sedih, terharu, gotong royong dan sebagainya), domein psikomotorik (misalnya keterampilan berbicara, bertanya, memimpin, mengorganisir dan sebagainya), dan domein kognitif (misalnya memahami konsep-konsep tertentu, pengertian, teori dan sebagainya).
Adapun bagaimana Kegiatan simulasi itu bisa diterapkan, berikut contoh langkah-langkahnya:
Persiapan Simulasi
a.     Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai melalui simulasi.
b.    Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimu­lasikan.
c.     Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disedia­kan.
d.    Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khusus­nya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan simulasi.
Pelaksanaan Simulasi
  1. Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran.
  2. Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
  3. Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang menda­pat kesulitan.
  4. Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa berpikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
Penutup
a.       Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi ce­rita yang disimulasikan.Guru harus mendorong agar siswa dapat mem­berikan kritik dan tanggapan terhadap proses pelaksanaan simulasi.
b.      Merumuskan kesimpulan.

3)        Pengaplikasian Metode Simulasi dalam Pembelajaran
Sebelum membahas aplikasi metode unit teaching hendaknya kita tahu dulu tujuannya. Metode simulasi bertujuan untuk:
melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari,
a.    memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip,
b.    melatih memecahkan masalah, 
c.    meningkatkan keaktifan belajar, 
d.   memberikan motivasi belajar kepada siswa, 
e.    melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok,
f.     menumbuhkan daya kreatif siswa, dan
g.    melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.
Ketika berbicara mengenai pengaplikasian metode ini dalam pembelajaran, hendaknya kita melihat dari tujuan pembelajaran itu sendiri seperti apa, selain itu kita juga harus memilih materi yang sesuai dari tujuan pembelajaran yang ditetapkan, dari materi itulah kita bisa menentukan kapan metode ini dapat diterapkan, karena ada sebagian materi yang akan lebih efektif dengan metode lain atau selain simulasi.
Untuk menunjang efektivitas penggunaan metode simulasi perlu dipersiapkan kemampuan guru maupun kondisi siswa yang optimal. Dibawah ini dijelaskan tentang kemampuan guru dan kondisi siswa guna mendukung efektivitas metode simulasi dalam pembelajaran.
Kemampuan guru yang harus diperhatikan untuk menunjang metode simulasi di antaranya:
a.    Mampu membimbing siswa dalam mengarahkan teknik, prosedur, dam peran yang akan dilakukan dalam simulasi.
b.    Mampu memberikan ilustrasi
c.    Mampu menguasai pesan yang dimaksud dalam simulasi tersebut.
d.   Mampu mengamati secara proses simulasi yang dilakukan oleh siswa
e.    Adapun kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan dalam penerapan metode simulasi adalah:
a)    Kondisi, minat, perhatian dan motivasi siswa dalam bersimulasi
b)   Pemahaman terhadap pesan yang akan menstimulasikan
c)    Kemampuan dasar berkomunikasi dan berperan


2.    METODE UNIT TEACHING
1)        Pengertian
Pengajaran unit lebih dikenal dengan istilah “unit teching” merupakan pengajaran yang mengarahkan kegiatan peserta didik pada pemecahan suatu masalah yang dirumuskan dahulu secara bersama-sama.
Taredja, dkk.  (1980), dan Sumantri dan Permana  (2006) menyatakan bahwa
metode  pengajaran  unit  adalah  suatu  cara  pembelajaran  dimana  siswa  dan guru mengarahkan  segala kegiatannya pada pemecahan  suatu masalah  yang dipelajari melalui berbagai  segi yang berhubungan,  sehingga pemecahannya secara  keseluruhan dan  bermakna.
Pengajaran  unit  ini  sekarang  dinamakan pembelajaran terpadu. Menurut Sumantri  dan  Permana  (1998/1999)  terdapat  beberapa  jenis keterpaduan  dalam pembelajaran  terpadu  :  (1) Keterpaduan  antara  dua  atau lebih  masalah,  konsep, keterampilan,  tugas,  atau  ide-ide  lain  dalam  satu bidang  studi,  (2) Keterpaduan beberapa  topik atau  sub  tema dalam berbagai bidang  studi  (model  jaring  laba laba/webbed  model)  dan  (3)  lintas  bidang studi  yaitu  pemecahan masalah  yang melibatkan  adanya  prioritas  kurikuler dan  menemukan  pengetahuan  atau  konsep, keterampilan  dan  sikap  yang tumpang tindih dari beberapa bidang studi.

2)        Langkah-langkah Mengajar Metode Unit Teaching
Taredja, dkk  (1980) mengemukakan  langkah-langkah  pembelajaran  dengan  metode pembelajaran unit sebagai berikut :
a.    Kegiatan Persiapan
a)         Guru menjelaskan  kepada  siswa  tentang   bagaimana  cara  melaksanakan pembelajaran dengan metode unit.
b)        Guru bersama siswa menetapkan pokok masalah yang akan dijadikan unit.  Pokok  masalah  itu hendaknya  sesuai  dengan  minat  dan  latar belakang  siswa,  sesuai dengan  kurikulum dan  kebutuhan  siswa,  dan sesuai  dengan  ketersediaan  sumber  baik  buku,  para  ahli  maupun instansi. 
c)         Guru  dan  siswa  menetapkan  aspek-aspek pokok  masalah  dan  mata pelajaran-  mata  pelajaran  yang  ikut  serta  pada  pemecahan pokok masalah tersebut.
d)        Guru  bersama  siswa menetapkan  tujuan  instruksional khusus  (TIK) untuk setiap aspek masalah.
e)         Guru  dan  siswa  menetapkan  kelompok kelompok  kerja  dan  tugas- tugasnya. Biasanya  jumlah kelompok disesuaikan dengan banyaknya aspek masalah/unit.
f)         Guru  dan  siswa  menetapkan  organisasi  kelas  : ketua,  wakil  ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi, dan sebagainya. Organisasi ini yang akan mengelola penyelesaian kegiatan unit.
g)        Guru dan siswa menetapkan jadwal kegiatan, sasaran, target, dan tata tertib yang harus dipatuhi selama pembelajaran unit ini.

b.    Kegiatan Pelaksanaan
a)         Kegiatan Awal. Guru menanyakan materi pelajaran sebelumnya. Guru berceritera tentang kehidupan di masyarakat yang berkaitan dengan  materi  pelajaran  yang  akan diajarkan  melalui pembelajaran unit. Guru mengingatkan kembali  tentang TIK  yang telah dirumuskan dan bagaimana penyelesaiannya oleh kelompok.
b)        Kegiatan Inti Para  siswa mengatur  tempat  mereka  belajar  /  bekerja,  apakah tempat belajar itu di dalam kelas maupun di luar kelas. Mempelajari  sesuatu sesuai  dengan tugas  masing-masing, misalnya  :  melakukan  percobaan-percobaan,  mengerjakan  soal soal, menggambar, mempelajari  nyanyian, mengunjungi  tempat- tempat  yang  telah direncanakan, mengikuti  ceramah  dari nara sumber, dan sebagainya.

c.    Kegiatan Penutup.
Guru  meminta  siswa merangkum  hasil  belajar  melalui  kegiatan dalam metode pembelajaran unit. Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pelaksanaan pembelajaran melalui metode pembelajaran unit. Tindak  lanjut,  yaitu menjelaskan  kembali materi  pelajaran yang belum  dikuasai  siswa  dan  menugasi  untuk  memperdalam penguasaan materi pelajaran melalui Penugasan Rumah (PR).


3)        Tujuan Metode Unit Teaching.
Adapun tujuan dan penggunaan metode pengajaran unit adalah :
a.         Melatih peserta didik berpikir komperehensif dengan cara mengkaji dan memecahkan permasalahan dari berbagai disiplin ilmu atau berbagai aspek.
b.         Melatih peserta didik menggunakan keterampilan proses atau metode ilmiah dengan pemecahan msalah.
c.         Terbentuk sikap kritis, kerjasama, rasa ingin tahu, menghargai waktu dan menghargai pendapat orang lain.
d.        Melatih peserta didik agar memiliki kemampuan merencanakan mengorganisasi dan memimpin suatu kegiatan.
e.         Mengembangkan keterampilan berkomonikasi.

4)        Kelebihan dan Kekurangan Metode Proyek (unit teaching)
Kelebihan Unit Teaching adalah :
a.         Siswa dapat belajar secara keseluruhan yang bulat sehingga hasil pelajarannya menjadi lebih berarti baginya
b.         Pengajaran menimbulkan suasana kelas demokratis
c.         Siswa bisa menggunakan sumber-sumber materi pelajaran secara luas
d.        Dapat direalisir prinsip-prinsip psikologi belajar modern.
Kelemahan metode ini :
a.         Untuk merencanakan unti tidak mudah
b.         Memerlukan seorang ahli yang betul-betul menguasai masalah
c.         Memerlukan kecakapan, ketekunan
d.        Perhatian guru harus lebih banyak dicurahkan pada bimbingan kerja siswa
e.         Kemungkinan pelajaran disajikan tidak mendalam karena terlalu luas sehinga pengetahuan siswa hanya bersifat mengambang.

3.    MICRO TEACHING
1)        Pengertian
Micro Teaching berasal dari dua kata yaitu micro berarti kecil, terbatas, sempit dan teaching berarti mengajar. Jadi, Micro Teaching berarti suatu kegiatan mengajar yang dilakukan dengan cara menyederhanakan atau segalanya dikecilkan. Maka, dengan memperkecil jumlah murid, waktu, bahan mengajar dan membatasi keterampilan mengajar tertentu, akan dapat diidentifikasi berbagai keunggulan dan kelemahan pada diri guru secara akurat.
J.Cooper & D.W. Allen (1971) mengatakan bahwa pengajaran mikro adalah studi tentang suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah tertentu, yakni selama empat atau sampai dua puluh menit dengan jumlah siswa sebanyak tiga sampai sepuluh orang, bentuk pengajaran di sederhanakan, guru hanya memfokuskan diri hanya pada beberapa aspek, pengajaran berlangsung dalam bentuk sesungguhnya, hanya saja diselenggarakan dalam bentuk mikro. membahas tentang pengertian pengajaran mikro, sejarahnya, rasional, penggunaan pengajaran mikro dan efektivitas pengajaran mikro, serta rangkuman penelitian.
Karakteristik Mikro Teaching:
Konsep pengajaran mikro dilandasi oleh pokok-pokok pikiran, yaitu Pengajaran yang nyata, artinya pengajaran di laksanakan tidak dalam bentuk sebenarnya, tetapi berbentuk mini dengan karakteristik sebagai berikut :
a.         Peserta berkisar antara 5 – 10 orang
b.         waktu mengajar terbatas sekitar 10-15 menit
c.         komponen mengajar dikembangkan terbatas
d.        Latihan terpusat pada keterampilan mengajar.
e.         Mempergunakan informasi dan pengetahuan tentang tingkat belajar
f.          umpan balik terhadap kemampuan guru.
g.         pengajaran di laksanakan bagi para siswa dengan latar belakang yang berbeda-beda dan berdasarkan pada kemampuan intelektual kelompok usia tertentu.
h.         Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang di selenggarakan dalam laboratorium mikro teaching
i.           Pengadaan low-threat-situation untuk memudahkan guru mengajari keterampilan mengajar.
j.           Penyediaan low-risk-situation yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam pengajaran.
k.         Penyediaan kesempatan latihan ulang dan pengaturan distribusi latihan dalam jangka waktu tertentu.

Kesimpulannya,metode micro teaching adalah suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah tertentu, bentuk pengajaran di sederhanakan, guru hanya memfokuskan diri hanya pada beberapa aspek, pengajaran berlangsung dalam bentuk sesungguhnya, hanya saja diselenggarakan dalam bentuk mikro.

2)        Langkah-langkah Pembelajaran Micro Teaching
Seperti yang telah disinggung diatas, bahwa micro teaching adalah situasi pembelajaran yang dilakukan dalam waktu dan jumlah tertentu serta bentuk pengajaran yang disederhanakan. Maka, dalam langkah-langkah pembelajarannya pun memerlukan perencanaan yang dibuat sedemikian rupa agar dengan waktu yang sedikit pembelajaran itu dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Ada tidaknya interaksi adalah merupakan tanggung jawab guru, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Suatu cara untuk menumbuhkan interaksi ini adalah dengan mengajukan pertanyaan atau permasalahan kepada siswa.
Tetapi satu hal yang lebih penting ialah kemampuan guru dalam menyediakan kondisi yang memungkinkan terciptanya hal tersebut memiliki kemampuan untuk :
a)         Menghargai siswa sebagai insan pribadi dan insan sosial yang memiliki hakikat dan harga diri sebagai manusia.
b)        Menciptakan iklim hubungan yang intim dan erat antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa.
c)         Menumbuhkan gairah dan kegembiraan belajar di kalangan siswa
d)        Kesediaan dalam membantu siswa.
e)         Aktivitas siswa yang bersifat negatif dalam arti mengganggu berlangsungnya proses belajar mengajar perlu segera dihentikan. Siswa yang bermain sendiri atau mengganggu teman yang lain atau berusaha menarik perhatian kelas, penting untuk mendapatkan perhatian guru.
Berikut adalah contoh kegiatan dalam mikro teaching:
Persiapan
a.    Guru menyiapkan materi sederhana yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran,
b.    Guru menentuka media pembelajaran yang sederhana yang tidak memerlukan banyak waktu dalam pelaksanaannya,
Pelaksanaan
a.         Guru bersama siswa melakukan tanya jawab tentang topik materi yang akan disampaikan
b.         Guru menyampaikan materi yang telah disederhanakan dengan media yang telah dipersiapkan
c.         Guru menyampaikan garis-garis pokok materi melalui metode ceramah.
Penutup
a.         Siswa bersama guru melakukan diskusi, guru harus mendorong agar siswa dapat mem­berikan tanggapan terhadap materi yang telah diberikan.
b.         Siswa dan guru bersama-sama merumuskan kesimpulan.


3)        Aplikasi Micro Teaching
Pembelajaran micro teaching seringkali digunakan dalam memberikan bimbingan belajar mengingat micro teaching adalah suatu kegiatan mengajar yang dilakukan dengan cara menyederhanakan atau segalanya dikecilkan.
Jika dalam pengaplikasiannya, jumlah siswa yang ada terlalu banyak, maka dalam pelaksanaanyapun sedikit kemungkinan dapat sampai pada tujuan pembelajaran, karena dengan waktu yang terbatas guru harus bisa menyampaikan materi kepada banyak siswa yang notabennya siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima pelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar