Minggu, 23 Oktober 2011

Ulumul Qur'an


1.         Fase Sebelum Kodifikasi (Qalb ‘Ashr At-Tadwin)
Pada fase sebelum kodifikasi, Ulumul Qur’an telah dianggap sebagai benih yang kemunculannya sangat dirasakan sejak zaman Nabi. Hal itu ditandai dengan kegairahan para sahabat untuk mempelajari Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Terlebih lagi di antara mereka sebagaimana diceritakan oleh Abu Abdurrahman As-Sulami.[1].
Kegairahan para sahabat untuk mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an nampaknya lebih kuat lagi ketika Nabi hadir ditengah-tengah mereka. Hal inilah yang kemudian mendorong Ibnu Taimiyyah untuk mengatakan bahwa Nabi sudah menjelaskan apa-apa yang menyangkut penjelasan Al-Qur’an kepada para sahabatnya.[2]
Riwayat dan penafsiran ilmu Al-Qur’an yang diterima oleh para sahabat dari Nabi itu kemudian diterima oleh para tabi’in dengan jalan periwayatan. Dapat dijelaskan disini bahwa para perintis Ulumul Qur’an pada abad I (atau sebelum kodifikasi) adalah sebagai berikut:
1)      Dari kalangan sahabat : Khulafa Ar-Rasyiddin, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid BinTsabit, Ubai Bin Ka’ab, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair.
2)      Dari kalangan Tabi’in : Mujahid, ‘Atha Bin Yasar, ‘Ikrimah, Qatadah, Al-Hasan Al-Bashri, Sa’id Bin Jubair, Zaid Bin Aslam.
3)      Dari kalangan atba’tabi’in : Malik Bin Anas
Periode sebelum kodifikasi sekaligus menjelaskan perkembangan Ulumul Qur’an pada abad I H.

2.         Fase Kodifikasi
Pada fase sebelum kodifikasi, Ulumul Qur’an dan ilmu-ilmu lainnya belum dikodifikasikan dalam bentuk kitab atau mushaf satu-satunya yang sudah adalah Al-Qur’an.[3] Kemudian Ali Bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad Ad-Da’uli untuk menulis ilmu nahwu. Perinta Ali inilah yang membuka gerbang pengodifikasian ilmu-ilmu agama dan bahasa arab. Pengodifikasian itu semakin marak dan meluas ketika islam berada dibawah perintah Bani Umayyah dan Bani ‘Abbasiyah pada periode-periode awal pemerintahannya.
2.1.      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad II H.
Pada masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai sejak permulaan abad II H, para ulama memberikan prioritas atas penyusunan tafsir sebab tafsir merupakan induk Ulumul Qur’an. Di antara ulama abad II H yang menyusun tafsir ialah :
1)         Syu’bah al-hajjaj (w. 160 H.) [4]
2)         Sufyan Bin ‘Uyainah (w. 198 H.) [5]
3)         Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H.)
4)         Waqi’ Bin Al-Jarrh (w. 128-197 H.) [6]
5)         Muqatil Bin Sulaiman (w. 150 H.)
6)         Ibnu Jarir At-Thabari (w. 310 H.) [7]

2.2.      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad III H.
Pada abad III H., selain tafsir dan ilmu tafsir para ulama mulai menyusun beberapa ilmu Al-Qur’an (Ulumul Qur’an). Di antaranya :
1)         Ali Bin Al-Madini (w. 234 H.) Gurunya Imam Al-Bukhari yang menyusun Ilmu Asbab An-Nuzul.
2)         Abu Ubaid Al-Qasimi Bin Salam (w. 224 H.) yang menyusun Ilmu Nasikh Al-Mansukh, Ilmu Qiro’at dan Fadha’il Al-Qur’an.
3)         Muhammad Bin Ayyub Adh-Dhurraits (w. 294 H.) yang menusun Ilmu Makki wa Al-Madani.
4)         Muhammad Bin Khalaf Al-Marzuban (w. 309 H.) yang menyusun kitab Al-Hawi fi ‘Ulum Al-Qura’an.

2.3.      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad IV H.
Pada abad IV H. mulai disusun Ilmu Gharib Al-Qur’an dan beberapa kitab Ulumul Qur’an dengan memakai istilah Ulumul Qur’an. Diantara ulama yang menyusun ilmu-ilmu itu adalah:
1)         Abu Bakar As-Sijistani (w. 330 H.) yang menyusun Ilmu Gharib Al-Qur’an .
2)         Abu Bakar Muhammad Bin Ali-Qasim Al-Anbari (w. 328 H.) yang menyusun kitab ‘Aja’ib ‘Ulum Al-Quran.
3)         Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H.)
4)         Abu Muhammad Al-Qasab Muhammad Bin Ali Al-Kurkhi (w. 360 H.)
5)         Muhammad Bin ‘Ali Al-Adfawi (w. 388 H.)

2.4.      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad V H.
Pada abad V H. mulai disusun Ilmu I’rab Al-Qur’an dalam satu kitab. Di antara ulama yang bekerja dalam pengembangan Ulumul Qur’an pada abad ini adalah :
1)         Ali Bin Ibrahim Bin Sa’id Al-Hufi (w. 430 H.)
2)         Abu ‘Amr Ad-Dani (w. 444 H.). Penyusun kitab At-Taisir fi Qira’at As-Sab’i dan Al-Muhkan fi An-Naqth.

2.5.      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VI H.
Pada abad VI H. disamping terdapat ulama yang meneruskan pengembangan Ulumul Qur’an, juga terdapat ulama yang mulai menyusun Ilmu Mubhamat Al-Qur’an, diantaranya adalah :
1)      Abu Al-Qasim Bin Abdurrahman As-SSuhaili (w. 581 H.). Penyusun kitab Mubhamat Al-Qur’an.
2)      Ibn Al-Jauzi (w. 597 H.)

2.6.      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VII H.
Pada abad VII H. ilmu-ilmu Al-Qur’an terus berkembang dengan mulai tersusunnya Ilmu Majaz Al-Qur’an dan Ilmu Qira’at. Yang mnaruh perhatian dalam ilmu ini adalah :
1)      Alamuddin As-Sakhawi (w. 643 H.) penyusun kitab Manzhumah As-Sakhawiyyah.
2)      Ibnu Abd. As-Salam (w. 660 H.) yang memelopori penulisan Ilmu Mazaj Al-Qur’an dalam satu kitab.
3)      Abu Syamah (w. 655 H.) Penyusun kitab Al-Mursyid Al-Wajiz fi ‘Ulum Al-Qur’an Tata’allaq bi Al-Qur’an Al-‘Aziz.

2.7.      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VIII H.
Pada abad VIII H. munculah beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Al-Qur’an. Namun penyusunan kitab tentang Ulumul Qur’an tetap berjalan. Di antara mereka adalah :
1)      Ibnu Abi Al-Isba’ yang menyusun Ilmu Badai’i Al-Qur’an.
2)      Ibnu Al-Qayyim (w. 752 H.) yang menyusun Ilmu Aqsam Al-Qur’an.
3)      Najmuddin Ath-Thufi (w. 716 H.) Penyusun Ilmu Hujaz Al-Qur’an dan Ilmu Jadal Al-Qur’an.
4)      Abu Al-Hasan Al-Mawardi yang menyusun Ilmu Amtsal Al-Qur’an.
5)      Badruddin Az-Zarkasyi[8] (745-794 H.). Penyusun kitab Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
6)      Taqiyuddin Ahmad Bin Taimiah Al-Harrani (w. 728 H.) yang menyusun kitab Ushul At-Tafsir.

2.8.      Perkembangan Ulumul Qur’an abad IX dan X H.
Pada abad ke IX dan permulaan abad X H., makin banyak karya para ulama tentang Ulumul Qur’an hingga perkembangan Ulumul Qur’an mencapai kesempurnaannya. Beberapa ulama yang menyusun Ulumul Qur’an ialah :
1)      Jaluluddin Al-Bulqini[9] (w. 824 H.) yang menyusun kitab Mawaqi’ Al-‘Ulum min Mawaqi’ An-Nujum.
2)      Muhammad Bin Sulaiman Al-Kafiyaji (w. 879 H.) yang menyusun kitab At-Taisir fi Qawa’id At-Tafsir.
3)      Jalaluddin Abdurrahman Bin KamaluddinAs-Suyuthi (849-911 H.) yang menyusun kitab At-Tahbir fi ‘Ulum At-Tafsir.
2.9.      Perkembangan Ulumul Qur’an abad XIV H.
Setelah memasuki abad XIV H. perhatian ulama bangkit dalam penyusunan kitab-kitab yang membahas Al-Qur’an dari berbagai segi. Karya Ulumul Qur’an yang lahir pada abad ini, di antaranya adalah :
1)         Syekh Thahir Al-jazairi yang menyusun kitab At-Tibyani fi ‘Ulum Al-Qur’an dan selesai pada tahun 1335 H.
2)         JamaluddinAlQasimy (w. 1332 H.) penyusun kitab Mahasin At-Ta’wil.
3)         Muhammad ‘abd Al-Azhim Az-Zarkani penyusun Manahil Al-Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
4)         Muhammad Ali Salamah yang menyusun Manhaj Al-Furqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
5)         Syekh Tanthawi Jauhari, penyusun kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an dan Al-Qur’an wa ‘Ulum ‘Ashriyyah.
6)         Mushthafa Shadiq Ar-Rafi’i penyusun I’jaz Al-Qur’an.
7)         Sayyid Quthub, penyusun At-Tashwir Al-Fani fi Al-Qur’an.
8)         Malik Bin Nabi yang menyusun kitab Az-Zhahirah Al-Qur’aniyah.
9)         Sayyid Imam Muhammad Rasyid Ridha, penyusun Tafsir Al-Qur’an Al-Hakim.
10)     Syekh Muhammad Abdullah Darraz, penyusun Nazharat Jadidah fi Al-Qur’an.
11)     Dr. Subhi Ash-Shalih, penyusun kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an.
12)     Syekh Mahmud Abu Daqiqi yang menyusun kitab ‘Ulum Al-Qur’an.
13)     Syekh Myhammad Ali Salamah yang menyusun Manhaj Al-Furqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
14)     Ustadz Muhammad Al-Mubarak yang menyusun kitab Al-Manhal Al-Khalid.
15)     Muhammad Al-Ghazali penyusun kitab Nazharat fi Al-Qur’an.
16)     Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang menyusun kitab Tafsir Al-Maraghi. [10]


[1] Ia adalah Abdullah Bin Hubaib At-Tabi’I Al-Muqri (w. 672 H)
[2] Al-Qaththan, op. cit. hlm 347
[3] Syahbah, op. cit. hlm 3.
[4] Ash-Shalih, op. cit. hlm. 121.
[5] Sufyan Bin Uyainah Al-Hilali Al-Kufi adalah Syekh dalam bidang tafsir dan hadits di Hijaz. Ibid. hlm. 121.
[6] Ibid
[7] Syahbah, op. cit. hlm 31.
[8] Syahbah, op. cit. hlm 35.
[9] Ibid. hlm 36.
[10] Syahbah, op. cit. hlm 35-41; Ash-Shalih. op. cit. hlm 120-126; Masyfuk Zuhdi. Pengantar Ilmu Qur’an. Bina Ilmu. Surabaya. 1993. hlm. 23-30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar